Gejala Penarikan Diri setelah Mengonsumsi Selank: Apa Kata Penelitian?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan mengenai zat-zat yang memengaruhi suasana hati, kecemasan, atau fungsi kognitif adalah apakah penghentian penggunaannya dapat menyebabkan gejala putus zat atau berujung pada ketergantungan. Berdasarkan data ilmiah yang tersedia saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Selank menyebabkan ketergantungan fisik atau sindrom putus obat yang khas pada benzodiazepin, opioid, atau zat psikoaktif lain yang berpotensi menyebabkan ketergantungan [1–4].
Selank awalnya dikembangkan sebagai peptida ansiolitik dan telah diteliti secara luas terkait pengaruhnya terhadap kecemasan, pengaturan stres, serta fungsi kognitif. Berbeda dengan banyak obat anti-kecemasan konvensional, Selank tampaknya bekerja sebagai neuropeptida pengatur, bukan melalui stimulasi atau penghambatan langsung terhadap sistem saraf pusat [1].
Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa Selank bekerja terutama melalui modulasi sinyal GABA-ergik, peptida opioid endogen seperti enkefalin, serta jalur yang terkait dengan neuroplastisitas [1,2]. Mekanisme ini sangat berbeda dari cara kerja benzodiazepin, yang berikatan langsung dengan situs benzodiazepin pada reseptor GABA-A dan dikenal luas dapat menyebabkan toleransi serta gejala putus obat setelah penggunaan jangka panjang.
Apakah Selank Membuat Ketagihan?
Data ilmiah saat ini tidak menunjukkan bahwa Selank memiliki sifat yang membuat ketagihan.
Dalam uji klinis yang melibatkan pasien dengan gangguan kecemasan generalisata dan neurasthenia, terbukti bahwa Selank mengurangi tingkat kecemasan dan memperbaiki kondisi psikologis tanpa menunjukkan tanda-tanda ketergantungan, penyalahgunaan, atau munculnya gejala putus obat [3]. Para peneliti juga mengamati adanya efek psikostimulan dan anti-astenia tanpa efek sedatif yang jelas, yang sering menyertai zat-zat yang dapat menyebabkan ketergantungan.
Penelitian pada hewan memberikan dukungan tambahan. Telah dibuktikan bahwa Selank yang digunakan bersamaan dengan benzodiazepin memperkuat efek anxiolitiknya, sekaligus mengurangi efek sedasi dan relaksasi otot [4]. Hasil ini menunjukkan bahwa Selank berperilaku berbeda dari obat penenang tradisional dan memiliki profil neurofarmakologis yang unik.
Apakah Menghentikan Penggunaan Selank Dapat Menyebabkan Gejala Penarikan?
Saat ini, belum ada penelitian yang dipublikasikan yang melaporkan adanya gejala putus obat yang secara klinis signifikan setelah penghentian penggunaan Selank.
Dalam literatur ilmiah, juga tidak dilaporkan adanya kasus kecemasan terhadap efek samping, ketergantungan fisik, penggunaan kompulsif, maupun kebutuhan untuk meningkatkan dosis secara bertahap [1–4].
Namun, perlu dibedakan antara kurangnya bukti dengan bukti bahwa gejala putus obat tidak akan pernah terjadi. Karena penelitian jangka panjang pada manusia masih terbatas, para peneliti tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa beberapa orang mungkin merasakan perubahan pada kesejahteraan subjektif mereka setelah menghentikan penggunaan Selank.
Sebagai contoh, seseorang yang mengalami tingkat kecemasan yang lebih rendah selama menjalani intervensi apa pun, mungkin akan menyadari kembalinya gejala-gejala sebelumnya setelah intervensi tersebut berakhir. Situasi seperti ini tidak selalu berarti terjadinya gejala putus obat dan mungkin hanya mencerminkan kambuhnya masalah awal yang sebelumnya telah membaik.
Mengapa Selank Tampaknya Memiliki Potensi Kecanduan yang Rendah?
Beberapa karakteristik mungkin dapat menjelaskan potensi kecanduan Selank yang tampaknya rendah.
Pertama-tama, Selank tampaknya mengatur sistem neurotransmiter, alih-alih menyebabkan lonjakan tajam zat-zat neurokimia yang terkait dengan sistem penghargaan, yang sering kali berkontribusi terhadap perkembangan kecanduan.
Kedua, data saat ini menunjukkan bahwa Selank tidak menimbulkan sedasi yang nyata, euforia, rasa mabuk, maupun gangguan fungsi kognitif, yaitu ciri-ciri yang sering dikaitkan dengan zat-zat yang memiliki potensi penyalahgunaan tinggi [1,3].
Ketiga, Selank tampaknya bekerja dengan memodulasi sistem biologis alami, termasuk aktivitas reseptor GABA, metabolisme enkefalin, serta jalur neuroplastisitas, yang dapat mendukung keseimbangan emosional tanpa menyebabkan gangguan signifikan pada kimiawi otak [1–3].
Usulan Penelitian Terkini
Berdasarkan penelitian yang tersedia pada manusia dan hewan, Selank tampaknya bukan zat yang menimbulkan ketergantungan dan tidak terbukti menyebabkan gejala putus obat yang dapat dikenali secara klinis [1–4]. Meskipun demikian, diperlukan penelitian jangka panjang lebih lanjut untuk mengevaluasi profil keamanannya dengan lebih baik, terutama dalam hal penggunaan jangka panjang dan setelah penghentian penggunaannya.
Apakah Selank Dapat Terdeteksi dalam Tes Narkoba?
Apakah Selank Dapat Menyebabkan Hasil Tes Narkoba Menjadi Positif?
Pertanyaan lain yang sering diajukan adalah apakah Selank dapat menyebabkan hasil positif pada tes narkoba yang dilakukan di tempat kerja, dunia olahraga, lembaga penegak hukum, atau bidang kedokteran forensik.
Berdasarkan data yang tersedia saat ini, Selank tidak diketahui menyebabkan hasil positif pada panel skrining standar.
Sebagian besar tes narkoba rutin dirancang untuk mendeteksi zat-zat tertentu atau metabolitnya, termasuk amfetamin, metabolit kokain, kanabinoid, opioid, benzodiazepin, fensiklidin (PCP), serta beberapa jenis narkoba sintetis.
Selank adalah heptapeptida sintetis yang terdiri dari tujuh asam amino alami yang tersusun dalam urutan Thr-Lys-Pro-Arg-Pro-Gly-Pro (TKPRPGP) [5].
Karena strukturnya tidak terkait dengan senyawa-senyawa yang umumnya diperhitungkan dalam uji toksikologi rutin, saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Selank menyebabkan hasil positif palsu untuk zat-zat yang paling sering diuji.
Apakah Selank Terlihat Seperti Benzodiazepin dalam Tes Narkoba?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Selank menyebabkan hasil positif pada tes deteksi benzodiazepin.
Pertanyaan ini sering muncul karena Selank memiliki sifat anxiolitik dan memengaruhi sinyal GABA-ergik. Namun, penelitian mekanistik menunjukkan bahwa Selank bekerja secara berbeda dari benzodiazepin [1]. Meskipun Selank memodulasi aktivitas reseptor GABA melalui modulasi alosterik positif, interaksinya tampaknya berbeda dari ikatan klasik dengan situs benzodiazepin.
Selain itu, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa Selank dapat memodifikasi efek diazepam dan zat psikoaktif lainnya dengan cara yang melampaui sekadar penjumlahan efek, yang semakin memperkuat profil farmakologisnya yang unik [1,4].
Apakah Laboratorium Khusus Dapat Mendeteksi Selank?
Meskipun Selank tidak dikenal sebagai zat yang terdeteksi dalam tes narkoba rutin, hal itu tidak berarti bahwa zat tersebut tidak mungkin terdeteksi.
Secara teoritis, teknik analisis khusus, seperti kromatografi cair yang digabungkan dengan spektrometri massa (LC-MS), berpotensi mengidentifikasi senyawa peptida, asalkan protokol penelitian dirancang khusus untuk mendeteksinya. Namun, tes semacam ini sangat terspesialisasi dan sangat berbeda dari pemeriksaan standar yang dilakukan di tempat kerja, klinik, atau selama pemeriksaan skrining rutin.
Saat ini belum ada penelitian yang dipublikasikan yang menunjukkan bahwa Selank secara rutin dimasukkan ke dalam panel toksikologi konvensional.
Apakah Selank Mempengaruhi Tes Anti-Doping?
Literatur yang tersedia tidak memberikan bukti bahwa Selank secara rutin menyebabkan hasil positif pada tes anti-doping standar. Namun, perlu diingat bahwa organisasi anti-doping secara rutin memperbarui daftar zat terlarang dan prosedur pengujian.
Oleh karena itu, para atlet yang berkompetisi di tingkat profesional sebaiknya selalu memeriksa peraturan terkini yang berlaku di organisasi olahraga mereka, alih-alih berasumsi bahwa semua peptida secara otomatis diperbolehkan.
Usulan Penelitian Terkini
Berdasarkan data yang tersedia saat ini, Selank tidak diketahui menyebabkan hasil positif pada tes narkoba rutin, karena merupakan heptapeptida sintetis dengan struktur yang berbeda dari zat-zat yang umumnya dimasukkan dalam panel skrining standar [1,5]. Meskipun demikian, metode analitis khusus secara teoritis dapat mendeteksi senyawa peptida tersebut, jika protokol penelitian dirancang khusus untuk tujuan tersebut.
Pernyataan Penafian
Materi ini bersifat murni edukatif dan informatif, serta tidak boleh ditafsirkan sebagai saran medis, rekomendasi terapi, atau konfirmasi keamanan atau kemanjuran penggunaannya. Selank masih tergolong sebagai peptida yang sedang dalam tahap penelitian di banyak negara, dan sebagian besar data yang tersedia berasal dari penelitian praklinis serta penelitian pada manusia yang masih terbatas. Penelitian terkini menunjukkan bahwa Selank memiliki profil keamanan yang baik, potensi kecanduan yang rendah, dan tidak ada hubungan yang diketahui dengan hasil positif pada tes narkoba rutin. Namun, data mengenai keamanan jangka panjang masih terbatas, dan penelitian klinis tambahan diperlukan untuk menentukan secara menyeluruh potensi ketergantungan, efek penghentian penggunaan, serta kemungkinan terdeteksinya zat ini dalam tes khusus.
Hanya untuk Tujuan Penelitian: Produk Selank yang ditawarkan oleh Semax Polska ditujukan semata-mata untuk penelitian laboratorium dan ilmiah. Produk ini tidak diizinkan untuk dikonsumsi manusia, digunakan untuk keperluan medis, mendiagnosis, mengobati, maupun mencegah penyakit apa pun. Tidak ada pernyataan apa pun yang dibuat mengenai diagnosis, pengobatan, pencegahan, atau penyembuhan penyakit apa pun.
Referensi
[1] Vyunova, T. V., Andreeva, L., Shevchenko, K., & Myasoedov, N. F. (2018). Anxiolitik Berbasis Peptida: Aspek Molekuler Aktivitas Biologis Heptapeptida Selank. Protein and Peptide Letters, 25(10), 914–923. https://doi.org/10.2174/0929866525666180925144642
[2] Zozulya, A. A., Kost, N. V., Sokolov, O. Y., Gabaeva, M. V., Grivennikov, I. A., Andreeva, L. N., Zolotarev, Y. A., Ivanov, S. V., Andryushchenko, A. V., Myasoedov, N. F., & Smulevich, A. B. (2001). Efek Penghambatan Selank terhadap Enzim Pengurai Enkephalin sebagai Mekanisme yang Mungkin dari Aktivitas Anxiolitiknya. Bulletin of Experimental Biology and Medicine, 131(4), 315–317. https://doi.org/10.1023/A:1017979514274
[3] Zozulia, A. A., Neznamov, G. G., Siuniakov, T. S., Kost, N. V., Gabaeva, M. V., Sokolov, O. Y., Serebriakova, E. V., Siranchieva, O. A., Andriushenko, A. V., Telesheva, E. S., Siuniakov, S. A., Smulevich, A. B., Myasoedov, N. F., & Seredenin, S. B. (2008). Efektivitas dan Mekanisme Kerja yang Mungkin dari Selank, Sebuah Peptida Anxiolitik Baru, dalam Terapi Gangguan Kecemasan Generalisata dan Neurasthenia. Jurnal Neurologi dan Psikiatri S.S. Korsakov, 108(4), 38–48. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18454096/
[4] Kost, N. V., Sokolov, O. Y., Zozulya, S. A., & Myasoedov, N. F. (2025). Efek Gabungan Obat Penenang Benzodiazepin dan Anxiolitik Peptida Selank pada Tikus BALB/c. Neurochemical Journal, 19, 743–748. https://doi.org/10.1134/S1819712425700783
[5] Pusat Informasi Bioteknologi Nasional. (2026). Ringkasan Senyawa PubChem untuk CID 11765600, Selank. Perpustakaan Kedokteran Nasional. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Selank