Salah satu bidang penelitian yang paling menarik mengenai Selank adalah pengaruhnya yang potensial terhadap faktor neurotropik yang berasal dari otak (BDNF – brain-derived neurotrophic factor). BDNF adalah protein yang memainkan peran kunci dalam kelangsungan hidup neuron, neuroplastisitas, pembentukan memori, proses pembelajaran, serta adaptasi kognitif. Protein ini sering dianggap sebagai salah satu faktor neurotropik terpenting di otak, karena mendukung pembentukan koneksi saraf baru dan membantu menjaga fungsi serta integritas neuron yang sudah ada.
Bukti yang mengaitkan Selank dengan regulasi BDNF sebagian besar berasal dari penelitian praklinis. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Levitskaya dan rekan-rekannya, pemberian Selank melalui hidung mengubah ekspresi BDNF di hipokampus tikus – area otak yang sangat terkait dengan memori, regulasi emosi, dan respons terhadap stres [1]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selank dapat memengaruhi jalur pensinyalan neurotropik setelah pemberian, sehingga memberikan bukti langsung mengenai interaksi peptida tersebut dengan mekanisme yang terkait dengan regulasi BDNF in vivo.
Pengamatan ini sangat penting karena penurunan aktivitas BDNF berkaitan dengan stres kronis, gangguan kecemasan, depresi, serta penurunan fungsi kognitif. Melalui pengaruhnya terhadap sinyal neurotropik, Selank dapat berkontribusi terhadap sebagian efek kognitif, emosional, dan neuroprotektif yang diamati dalam penelitian eksperimental dan klinis.
Meskipun hasilnya menjanjikan, perlu diingat bahwa bukti yang ada saat ini sebagian besar berasal dari penelitian pada hewan. Belum ada uji klinis berskala besar pada manusia yang secara langsung mengevaluasi perubahan kadar BDNF setelah penggunaan Selank. Oleh karena itu, meskipun data yang tersedia menunjukkan adanya interaksi Selank dengan jalur-jalur yang terkait dengan BDNF, saat ini belum dapat disimpulkan bahwa Selank secara konsisten meningkatkan kadar BDNF pada manusia.
Apa yang Disimpulkan oleh Penelitian tentang BDNF Terkait Selank?
Penelitian yang ada menunjukkan bahwa mekanisme kerja Selank melampaui sekadar modulasi neurotransmiter. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa peptida tersebut dapat memengaruhi ekspresi gen, adaptasi neuron, serta jalur-jalur yang terkait dengan neuroplastisitas, termasuk yang melibatkan BDNF [1,2].
Mekanisme kerja yang lebih luas ini membedakan Selank dari banyak obat penenang konvensional, yang efeknya terutama ditimbulkan melalui interaksi dengan reseptor neurotransmiter, tanpa pengaruh langsung terhadap pensinyalan neurotropik. Para peneliti berpendapat bahwa kemampuan Selank untuk memengaruhi baik sistem neurotransmiter maupun proses yang berkaitan dengan neuroplastisitas mungkin menjadi penyebab profil farmakologisnya yang unik [2].
Apakah Selank Mempengaruhi Dopamin?
Dopamin adalah neurotransmiter yang berperan dalam motivasi, pemrosesan penghargaan, perhatian, fungsi eksekutif, serta pembelajaran. Karena beberapa pengguna melaporkan peningkatan konsentrasi dan kejernihan pikiran, sering muncul pertanyaan apakah Selank secara langsung meningkatkan kadar dopamin.
Data saat ini menunjukkan bahwa Selank memengaruhi beberapa sistem neurotransmiter, namun bukti mengenai peningkatan dopamin secara langsung masih terbatas. Sebagian besar penelitian mekanistik berfokus pada pengaruhnya terhadap pensinyalan GABA-ergik, peptida opioid endogen seperti enkefalin, serta jalur neuroimunologi, bukan pada stimulasi langsung aktivitas dopaminergik [2,3].
Para peneliti berpendapat bahwa Selank dapat secara tidak langsung memengaruhi keseimbangan neurotransmiter melalui efek regulasinya yang luas terhadap fungsi otak. Dengan mengurangi kecemasan dan memodulasi jalur-jalur yang terkait dengan stres, peptida ini dapat secara sekunder memengaruhi sirkuit saraf yang terkait dengan dopamin, terutama yang bertanggung jawab atas proses kognitif dan regulasi emosi [2].
Apakah Selank Meningkatkan Kadar Dopamin?
Saat ini, belum ada bukti klinis yang kuat yang menunjukkan bahwa Selank secara langsung meningkatkan kadar dopamin pada manusia.
Berbeda dengan zat-zat yang dirancang khusus untuk memengaruhi reseptor atau transporter dopamin, Selank tampaknya bekerja terutama sebagai neuropeptida pengatur. Oleh karena itu, efek yang dilaporkan terkait suasana hati, fungsi kognitif, dan kinerja mental kemungkinan besar berkaitan dengan keseimbangan neurokimiawi secara umum, bukan stimulasi dopaminergik langsung.
Ini merupakan perbedaan yang penting, karena zat-zat yang secara drastis meningkatkan kadar dopamin sering kali dikaitkan dengan stimulasi berlebihan, perkembangan toleransi, atau kecanduan. Selank menunjukkan profil yang jelas berbeda – penelitian menunjukkan efek anxiolitik dan mendukung fungsi kognitif tanpa sifat stimulan atau euforik yang umumnya ditemukan pada senyawa dopaminergik yang kuat [3,4].
Berdasarkan bukti yang ada saat ini, lebih tepat untuk mendefinisikan Selank sebagai peptida yang dapat secara tidak langsung memengaruhi sistem yang terkait dengan regulasi dopamin, daripada sebagai penguat dopamin secara langsung.
Apakah Selank Meningkatkan Kadar Serotonin?
Serotonin adalah salah satu neurotransmiter terpenting yang berperan dalam pengaturan suasana hati, pemrosesan emosi, pengendalian kecemasan, dan kesejahteraan mental. Karena Selank menunjukkan efek anxiolitik baik dalam penelitian klinis maupun eksperimental, banyak peneliti mempertanyakan apakah serotonin berperan dalam efek-efek tersebut.
Bukti yang ada saat ini tidak secara tegas membuktikan bahwa Selank secara langsung meningkatkan kadar serotonin. Sebagian besar penelitian yang telah dipublikasikan berfokus pada modulasi reseptor GABA, metabolisme enkefalin, pensinyalan neurotropik, serta perubahan ekspresi gen, bukan pada stimulasi langsung sistem serotoninergik [2,3].
Namun, para peneliti menekankan bahwa profil anti-kecemasan Selank kemungkinan besar disebabkan oleh interaksi berbagai sistem neurotransmiter. Pengaturan kecemasan bergantung pada hubungan yang kompleks antara jalur GABA-ergik, opioid, imunologis, dan neurotropik, yang dapat secara tidak langsung memengaruhi aktivitas serotonin.
Apa yang Ditunjukkan oleh Penelitian?
Penelitian klinis menunjukkan bahwa Selank dapat mengurangi gejala kecemasan dan meningkatkan fungsi emosional pada orang dengan gangguan kecemasan umum serta gangguan terkait lainnya [3]. Namun, dalam penelitian-penelitian tersebut, konsentrasi serotonin maupun aktivitas reseptor serotonergik tidak diukur secara langsung.
Oleh karena itu, meskipun Selank secara jelas menunjukkan efek anxiolitik, bukti yang ada saat ini tidak memungkinkan untuk menyimpulkan bahwa peningkatan serotonin merupakan mekanisme utama yang bertanggung jawab atas efek-efek tersebut.
Penafsiran yang paling didukung secara ilmiah menyatakan bahwa Selank mungkin secara tidak langsung memengaruhi jalur-jalur yang terkait dengan serotonin sebagai bagian dari regulasi neurokimia yang lebih luas; namun, peningkatan kadar serotonin secara langsung belum terbukti hingga saat ini.
Apakah Selank Dapat Menurunkan Kadar Kortisol?
Kortisol umumnya dikenal sebagai hormon stres utama dalam tubuh. Kadar kortisol yang tinggi sering dikaitkan dengan stres kronis, kecemasan, gangguan tidur, penurunan fungsi kognitif, serta masalah yang berkaitan dengan suasana hati. Mengingat sifat anti-kecemasan Selank yang telah didokumentasikan dengan baik, sering muncul pertanyaan apakah peptida ini secara langsung menurunkan kadar kortisol.
Menariknya, belum ada uji klinis berskala besar yang secara langsung mengevaluasi respons kortisol setelah pemberian Selank. Sebagian besar penelitian yang telah dipublikasikan berfokus pada hasil yang berkaitan dengan kecemasan, regulasi neurokimia, metabolisme enkefalin, ekspresi BDNF, serta aktivitas sistem GABA-ergik [1–4].
Apakah Selank Dapat Menurunkan Kadar Kortisol?
Meskipun tidak ada pengukuran kortisol secara langsung, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Selank mungkin memengaruhi respons fisiologis terhadap stres.
Penelitian klinis menunjukkan berkurangnya gejala kecemasan pada orang dengan gangguan kecemasan umum dan neurasthenia [3]. Penelitian eksperimental juga menunjukkan bahwa Selank memodulasi sistem neurokimia yang terlibat dalam adaptasi terhadap stres, termasuk pensinyalan GABA-ergik serta kerja peptida opioid endogen [2,4].
Karena sistem-sistem ini terkait erat dengan regulasi sumbu hipotalamus–hipofisis–adrenal (HPA), para peneliti berpendapat bahwa Selank mungkin secara tidak langsung memengaruhi aktivitas hormon stres. Namun, tanpa pengukuran hormon secara langsung, saat ini belum dapat disimpulkan bahwa Selank secara pasti menurunkan kadar kortisol.
Kesimpulan Apa yang Dapat Ditarik?
Bukti-bukti yang ada mendukung peran Selank sebagai peptida anti-kecemasan yang mampu mengurangi gejala stres secara perilaku dan psikologis [2–4]. Namun, pertanyaan apakah efek-efek tersebut disertai dengan perubahan kadar kortisol yang dapat diukur masih belum terjawab.
Penelitian klinis di masa mendatang yang mengevaluasi biomarker endokrin, termasuk kortisol, akan sangat diperlukan untuk menentukan sejauh mana pengaruh Selank terhadap regulasi fisiologis stres.
Ringkasan
Penelitian terkini menunjukkan bahwa Selank memengaruhi berbagai sistem neurobiologis yang berkaitan dengan neuroplastisitas, adaptasi terhadap stres, dan regulasi emosi. Penelitian praklinis menunjukkan bahwa Selank dapat memengaruhi jalur yang terkait dengan BDNF, sedangkan pengaruhnya terhadap dopamin, serotonin, dan kortisol tampaknya bersifat tidak langsung dan masih belum sepenuhnya dipahami.
Meskipun bukti yang ada mendukung peran Selank sebagai peptida neuroregulator multifungsi, banyak mekanisme kerja yang diusulkan belum sepenuhnya dikonfirmasi dalam uji klinis berskala besar pada manusia. Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk menentukan secara lebih tepat pengaruhnya terhadap faktor-faktor neurotropik, sistem neurotransmiter, serta respons endokrin.
Pernyataan Penafian
Isi artikel ini bersifat murni edukatif dan informatif, serta bukan merupakan saran medis, diagnosis, maupun rekomendasi terapi. Selank masih berstatus sebagai peptida yang sedang diteliti di banyak negara, dan sebagian besar mekanisme yang dibahas didasarkan pada penelitian laboratorium, penelitian pada hewan, atau uji klinis tahap awal. Meskipun penelitian yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa Selank dapat memengaruhi neuroplastisitas, regulasi neurotransmiter, dan jalur yang terkait dengan stres, banyak mekanisme yang diusulkan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Hanya untuk tujuan penelitian: Produk Selank yang ditawarkan oleh Semax Polska ditujukan semata-mata untuk penelitian laboratorium dan ilmiah. Produk ini tidak disetujui untuk dikonsumsi manusia, penggunaan medis, diagnosis, pengobatan, maupun pencegahan penyakit. Diperlukan penelitian klinis lebih lanjut yang melibatkan manusia untuk mengkarakterisasi secara menyeluruh pengaruh Selank terhadap BDNF, dopamin, serotonin, kortisol, serta sistem neurobiologis terkait.
Referensi
[1] Levitskaya, N. G., Andreeva, L. A., Mezentseva, M. V., Shapoval, I. M., Podchernyaeva, R. Y., Shcherbenko, V. E., Potapova, L. A., Russu, L. I., Ershov, F. I., & Myasoedov, N. F. (2010). Pemberian Peptida Selank Secara Intranasal Mengatur Ekspresi BDNF di Hipokampus Tikus Secara In Vivo. Dokumen Ilmu Biologi, 431, 79–82. Tersedia di: https://www.researchgate.net/profile/Natalia-Levitskaya/publication/23306196_Intranasal_administration_of_the_peptide_Selank_regulates_BDNF_expression_in_the_rat_hippocampus_in_vivo
[2] Vyunova, T. V., Andreeva, L., Shevchenko, K., & Myasoedov, N. F. (2018). Anxiolitik Berbasis Peptida: Aspek Molekuler Aktivitas Biologis Heptapeptida Selank. Protein and Peptide Letters, 25(10), 914–923. https://doi.org/10.2174/0929866525666180925144642
[3] Zozulia, A. A., Neznamov, G. G., Siuniakov, T. S., Kost, N. V., Gabaeva, M. V., Sokolov, O. Y., Serebriakova, E. V., Siranchieva, O. A., Andriushenko, A. V., Telesheva, E. S., Siuniakov, S. A., Smulevich, A. B., Myasoedov, N. F., & Seredenin, S. B. (2008). Efektivitas dan Mekanisme Kerja yang Mungkin dari Selank, Sebuah Peptida Anxiolitik Baru, dalam Terapi Gangguan Kecemasan Generalisata dan Neurasthenia. Jurnal Neurologi dan Psikiatri S.S. Korsakov, 108(4), 38–48. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18454096/
[4] Zozulya, A. A., Kost, N. V., Sokolov, O. Y., Gabaeva, M. V., Grivennikov, I. A., Andreeva, L. N., Zolotarev, Y. A., Ivanov, S. V., Andryushchenko, A. V., Myasoedov, N. F., & Smulevich, A. B. (2001). Efek Penghambatan Selank terhadap Enzim Pengurai Enkephalin sebagai Mekanisme yang Mungkin dari Aktivitas Anxiolitiknya. Bulletin of Experimental Biology and Medicine, 131(4), 315–317. https://doi.org/10.1023/A:1017979514274
[5] Kost, N. V., Sokolov, O. Y., Zozulya, S. A., & Myasoedov, N. F. (2025). Efek Gabungan Obat Penenang Benzodiazepin dan Anxiolitik Peptida Selank pada Tikus BALB/c. Neurochemical Journal, 19, 743–748. https://doi.org/10.1134/S1819712425700783