Belum ada penelitian klinis yang dipublikasikan yang melibatkan manusia yang mengevaluasi keamanan NAD+ maupun prekursornya, termasuk NR, NMN, atau niacin atau nikotynamid dalam dosis tinggi, selama kehamilan atau masa menyusui.
Karena kurangnya data keamanan tersebut — dan bukan karena adanya bukti konkret yang menunjukkan bahwa senyawa-senyawa ini berbahaya — kesimpulan yang paling tepat adalah bahwa suplementasi NAD+ tidak boleh dimulai atau dilanjutkan selama kehamilan atau masa menyusui tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan, bidan, atau tenaga kesehatan berkualifikasi lainnya.
Dalam artikel ini, kami menjelaskan apa yang saat ini telah diketahui, apa yang masih belum diketahui, serta mengapa konsultasi medis sangat penting dalam situasi ini.
Apa yang sebenarnya diketahui tentang keamanan NAD+ selama kehamilan?
Poin awal yang paling penting adalah bahwa tidak ada uji klinis acak terkontrol plasebo pada manusia yang mengevaluasi keamanan NR, NMN, atau suplemen lain yang merupakan prekursor NAD+ selama kehamilan.
Penelitian pada manusia yang paling penting, yang dibahas dalam panduan-panduan kami lainnya mengenai NAD+, dilakukan pada orang dewasa yang tidak sedang hamil. Kehamilan secara rutin digunakan sebagai kriteria pengecualian dalam uji klinis semacam ini.
Namun, penelitian ini justru mengkaji masalah lain: apa yang terjadi jika biosintesis NAD+ yang normal terganggu selama kehamilan.
Sebuah penelitian penting telah mengidentifikasi mutasi genetik yang mengganggu jalur alami pembentukan NAD+ dari triptofan, yang dikenal sebagai jalur sintesis de novo. Pada keluarga yang terkena masalah ini, kelainan tersebut dikaitkan dengan berbagai kelainan bawaan, termasuk yang menyerang jantung, tulang belakang, dan ginjal [1].
Dalam penelitian yang sama, juga digunakan model tikus dengan gangguan biosintesis NAD+ yang serupa. Dalam model tersebut, suplementasi niasin—yang merupakan prekursor NAD+ dalam makanan dan salah satu bentuk vitamin B3—berhasil mencegah kelainan bawaan yang terkait dengan kondisi defisiensi [1].
Penelitian terkait pada hewan juga menunjukkan bahwa kekurangan NAD+ yang disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan dapat berkontribusi terhadap kelainan bawaan serta keguguran pada tikus [2].
Hasil-hasil ini penting, namun perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metabolisme NAD+ yang normal sangat penting selama masa kehamilan dan perkembangan janin. Hasil tersebut juga mendukung pentingnya asupan vitamin B3 yang memadai sebagai bagian dari pola makan yang sehat.
Namun, hal tersebut tidak membuktikan bahwa suplemen prekursor NAD+ dalam bentuk konsentrat atau dosis tinggi aman dikonsumsi selama kehamilan pada manusia.
Memperbaiki defisiensi gizi atau metabolik tidak sama dengan mengonsumsi suplemen melebihi kebutuhan fisiologis yang wajar.
Pertanyaan „apakah asupan vitamin B3 yang memadai penting selama kehamilan?” jelas berbeda dengan pertanyaan „apakah prekursor NAD+ dalam dosis tinggi telah diteliti dan dinyatakan aman selama kehamilan pada manusia?”.
Pernyataan pertama didukung oleh data di bidang gizi dan biologi perkembangan. Pernyataan kedua belum dapat dipastikan.
Oleh karena itu, hasil penelitian pada hewan yang menunjukkan bahwa niasin dapat memperbaiki kondisi defisiensi NAD+ tertentu, tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa NR, NMN, atau produk lain yang berkaitan dengan NAD+ dalam dosis tinggi aman dikonsumsi selama kehamilan.
Mengapa terdapat kesenjangan dalam penelitian?
Kurangnya penelitian tentang NAD+ yang secara khusus dilakukan pada wanita hamil bukanlah hal yang tidak biasa.
Wanita hamil sering kali tidak dilibatkan dalam uji klinis tahap awal yang berkaitan dengan obat-obatan baru, suplemen, atau senyawa bioaktif lainnya.
Hal ini terutama disebabkan oleh pertimbangan etis dan regulasi.
Intervensi yang belum diteliti secara memadai berpotensi memengaruhi perkembangan janin; oleh karena itu, para peneliti biasanya menghindari paparan yang disengaja terhadap wanita hamil terhadap senyawa yang belum memiliki riwayat keamanan yang memadai.
Bahkan setelah senyawa tertentu diteliti secara mendalam pada orang dewasa yang tidak sedang hamil, penelitian yang dilakukan khusus pada ibu hamil tetap memerlukan penilaian etika tambahan, pemantauan yang cermat, dan protokol yang dirancang dengan tepat.
Penelitian mengenai prekursor NAD+ masih merupakan bidang yang relatif baru.
Sebagian besar penelitian pada manusia mengenai senyawa seperti NR dan NMN telah dipublikasikan dalam beberapa tahun terakhir, dan sebagian besar di antaranya berfokus pada keamanan jangka pendek, biomarker, metabolisme, biologi terkait penuaan, serta populasi tertentu yang menderita penyakit.
Oleh karena itu, basis bukti belum mencapai tahap perkembangan di mana biasanya dapat diharapkan adanya penelitian khusus mengenai keamanan kehamilan.
Oleh karena itu, kurangnya data mengenai kehamilan saat ini tidak boleh secara otomatis ditafsirkan sebagai bukti adanya dampak buruk.
Namun, hal ini juga tidak boleh dianggap sebagai bukti keamanan.
Kesimpulan yang paling tepat adalah bahwa keamanan penggunaan prekursor NAD+ pekat selama kehamilan pada manusia masih belum diketahui.
Hal-hal yang berkaitan dengan menyusui
Kekurangan bukti terkait pemberian ASI juga sama besarnya.
Belum ada penelitian pada manusia yang dipublikasikan yang menentukan apakah NR, NMN, NAD+, atau metabolit pentingnya masuk ke dalam ASI.
Selain itu, tidak ada data yang dapat diandalkan pada manusia yang menunjukkan konsentrasi apa yang mungkin muncul dalam ASI setelah suplementasi, maupun tingkat paparan apa yang mungkin dialami oleh bayi yang disusui.
Tanpa data tersebut, paparan yang dialami anak tidak dapat diperkirakan secara akurat.
Hal ini penting karena berat badan bayi jauh lebih ringan daripada orang dewasa, dan metabolisme, fungsi ginjal, fungsi hati, serta tahap perkembangannya juga berbeda.
Oleh karena itu, tidak dapat diasumsikan bahwa dosis atau paparan yang dapat ditoleransi dengan baik oleh orang dewasa akan memiliki profil keamanan yang sama pada bayi.
Belum diketahui pula apakah metabolit yang terbentuk setelah suplementasi NR, NMN, atau senyawa lain yang terkait dengan NAD+ dapat memiliki dampak yang signifikan secara klinis terhadap bayi yang sedang menyusui.
Tidak adanya bukti tidak berarti bahwa bahaya tersebut telah terbukti.
Artinya, aspek-aspek keamanan yang relevan belum diteliti secara memadai.
Oleh karena itu, menyusui juga harus dianggap sebagai situasi di mana data keamanan umum dari penelitian pada orang dewasa tidak dapat langsung diterapkan.
Mengapa „konsultasikan dengan dokter” sebenarnya merupakan jawaban yang tepat di sini?
Dalam konteks ini, anjuran untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bukanlah sekadar pernyataan standar.
Hal ini mencerminkan keterbatasan utama dari bukti-bukti yang ada.
Di sisi lain, terdapat dua fakta penting.
Pertama-tama, metabolisme NAD+ memiliki peran biologis yang penting selama kehamilan dan perkembangan janin. Penelitian mengenai defisiensi NAD+ yang bersifat genetik dan metabolik menunjukkan bahwa gangguan pada jalur ini dapat menimbulkan konsekuensi serius terhadap perkembangan [1,2].
Kedua, belum ada data klinis mengenai keamanan pada manusia yang menjelaskan dampak suplementasi terkonsentrasi dengan prekursor NAD+ selama kehamilan atau masa menyusui.
Kombinasi ini membuat penilaian medis individual menjadi sangat penting.
Fakta bahwa suatu jalur biologis itu penting, tidak berarti secara otomatis bahwa modifikasi tambahan terhadapnya aman.
Tidak adanya data mengenai keamanan selama kehamilan juga berarti bahwa hasil yang diperoleh pada orang dewasa sehat yang tidak sedang hamil tidak dapat digunakan secara andal untuk menjawab pertanyaan mengenai perkembangan janin atau paparan pada bayi selama masa menyusui.
Tenaga kesehatan yang memahami perkembangan kehamilan, pola makan, riwayat medis, obat-obatan yang digunakan, hasil pemeriksaan laboratorium, dan faktor risiko individu, dapat menilai dengan lebih baik apakah suplementasi tambahan memang sesuai.
Hal ini sangat penting karena kebutuhan gizi selama kehamilan berbeda dengan kebutuhan populasi orang dewasa pada umumnya, dan perawatan prenatal standar sudah mencakup rekomendasi tertentu mengenai vitamin dan mineral.
Jika seseorang sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui dan mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen yang merupakan prekursor NAD+, langkah tepat selanjutnya adalah mendiskusikannya dengan dokter kandungan, bidan, apoteker, atau spesialis perawatan prenatal berkualifikasi lainnya sebelum memulai atau melanjutkan penggunaan produk tersebut.
Data umum mengenai keamanan NR, NMN, atau NAD+ pada orang dewasa tidak boleh dianggap sebagai pengganti nasihat medis pribadi terkait kehamilan.
Keterbatasan bukti yang ada saat ini
- Tidak ada penelitian klinis pada manusia yang telah dipublikasikan yang secara khusus mengevaluasi keamanan NR, NMN, NAD+, maupun suplementasi niacin atau nikotynamid dosis tinggi selama masa kehamilan.
- Tidak ada penelitian klinis pada manusia yang telah dipublikasikan yang membuktikan keamanan senyawa-senyawa tersebut selama masa menyusui.
- Sebagian besar penelitian yang tersedia mengenai prekursor NAD+ pada manusia tidak melibatkan wanita hamil; oleh karena itu, hasil umum mengenai keamanan pada orang dewasa tidak dapat dianggap berlaku untuk kehamilan.
- Penelitian yang mengaitkan defisiensi NAD+ dengan kelainan bawaan berfokus pada kondisi defisiensi yang disebabkan oleh faktor genetik atau lingkungan, bukan pada keamanan suplementasi yang melebihi kebutuhan fisiologis normal [1,2].
- Hasil penelitian pada hewan yang menunjukkan bahwa niasin dapat memperbaiki gangguan perkembangan yang terkait dengan kekurangan NAD+ pada model-model tertentu, tidak membuktikan bahwa suplementasi prekursor NAD+ dalam dosis tinggi aman selama kehamilan normal pada manusia.
- Belum ada data yang dapat diandalkan dari penelitian pada manusia yang menunjukkan apakah NR, NMN, NAD+, atau metabolit pentingnya dapat masuk ke dalam ASI.
- Belum ada data yang dapat diandalkan yang menunjukkan tingkat paparan pada bayi selama menyusui setelah ibu mengonsumsi suplemen prekursor NAD+.
- Dampak suplementasi jangka panjang pada ibu terhadap perkembangan janin, jalannya kehamilan, perkembangan bayi, dan keamanan menyusui masih belum diketahui.
- Ketiadaan bukti bahaya yang terdokumentasi tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti keamanan jika belum dilakukan uji klinis yang memadai pada ibu hamil.
Pernyataan Penafian
Artikel ini semata-mata bersifat edukatif dan merangkum hasil penelitian ilmiah. Artikel ini bukan merupakan saran medis, kebidanan, pediatri, maupun mengenai pemberian ASI.
Bukti yang ada saat ini belum cukup untuk menyimpulkan apakah NAD+, NR, NMN, atau suplemen niasin atau nikotynamid dosis tinggi aman atau berbahaya selama kehamilan atau masa menyusui. Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya penelitian keamanan yang memadai pada manusia dalam kelompok populasi tersebut.
NAD+ dan prekursornya tidak boleh disajikan sebagai metode pengobatan yang telah disetujui oleh FDA atau EMA untuk masalah yang berkaitan dengan kehamilan, perkembangan janin, pemberian ASI, atau tujuan medis lainnya, kecuali jika yang dimaksud adalah produk obat tertentu yang telah disetujui beserta indikasi penggunaannya.
Asupan vitamin B3 yang memadai diakui sebagai bagian dari pola makan yang sehat, termasuk selama kehamilan, namun kebutuhan gizi yang tepat tidak boleh disamakan dengan penggunaan suplemen prekursor NAD+ yang terkonsentrasi atau ber dosis tinggi.
Jangan memulai, melanjutkan, meningkatkan dosis secara signifikan, atau menghentikan konsumsi suplemen selama kehamilan atau masa menyusui tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan, bidan, apoteker, atau tenaga kesehatan lain yang berkualifikasi.
Pertanyaan mengenai kebutuhan vitamin B3 secara individu, suplemen prenatal, kekurangan gizi, atau produk yang berkaitan dengan NAD+ selama kehamilan atau masa menyusui sebaiknya didiskusikan dengan spesialis yang bertanggung jawab atas perawatan prenatal atau pascapersalinan.
Referensi
[1] Shi, H., Enriquez, A., Rapadas, M., Martin, E. M. M. A., Wang, R., Moreau, J., Lim, C. K., Szot, J. O., Ip, E., Hughes, J. N., Sugimoto, K., Humphreys, D. T., McInerney-Leo, A. M., Leo, P. J., Maghzal, G. J., Halliday, J., Smith, J., Colley, A., Mark, P. R., Collins, F., Sillence, D. O., Winlaw, D. S., Ho, J. W. K., Guillemin, G. J., Brown, M. A., Kikuchi, K., Thomas, P. Q., Stocker, R., Giannoulatou, E., Chapman, G., Duncan, E. L., Sparrow, D. B., & Dunwoodie, S. L. (2017). Kekurangan NAD, kelainan bawaan, dan suplementasi niacin. New England Journal of Medicine, 377(6), 544–552. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1616361
[2] Cuny, H., Rapadas, M., Gereis, J., Martin, E. M. M. A., Kirk, R. B., Shi, H., & Dunwoodie, S. L. (2020). Kekurangan NAD akibat faktor lingkungan atau interaksi gen-lingkungan menyebabkan kelainan bawaan dan keguguran pada tikus. Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional, 117(7), 3738–3747. https://doi.org/10.1073/pnas.1916588117